0

Destiny

Author: Gina Ridha

Cast: Son Chaeyoung, Yoon Dowoon

Rating: General

Length: Ficlet


     
“We don’t meet people by accident. They are meant to cross our paths for a reason.”

Lembaran kertas glossy tersusun rapi menempati tempatnya di sebuah album. Menampakkan gambar kenangan beberapa tahun silam yang akan membuat sebuah kotak kenangan dalam ingatanmu kembali terputar seperti kotak musik yang diputar dengan sengaja oleh pemiliknya.

***

‘Nida. Naega johahaneun saram, orang yang kuincar, nirago.’

Aku menghela napas. Jujur saja rasanya aku ingin meninju, menendang, memaki, memeluk, bahkan mencium pria itu. Namun sesuatu terpikir dalam benakku, sesuatu yang membuat ku terhenti untuk melakukan sesuatu bahkan mengatakan “iya” dengan keras, dan malah membuatku terdiam seperti orang bodoh yang sadar akan tertabrak kereta namun tak berkutik sedikitpun. Sesuatu yang membuat ku merasa menyesal menjadikan hal tersebut sebagai alasan. Dan apa? Yang aku katakan pada pria itu adalah sesuatu yang biasa diucapkan oleh si pengecut. 

‘Aku juga suka, sebagai teman aku merasa beruntung bisa kenal denganmu.’

Cih. Kau bilang teman? Saat kau jelas-jelas merasa cemburu saat pria itu berdekatan dengan wanita lain? Saat kau merasa iri orang lain mendapat perlakuan lebih baik? Saat pikiranmu tiba-tiba kosong karena memikirkan pria itu? Dan yang lebih parah, bagaimana bisa aku bilang hanya menyukainya sebagai teman lalu setelah mengatakan itu akulah satu-satunya orang yang paling menyesal?

***

Bagai tikus percobaan, waktu itu aku hanya diam membeku. Tidak menunjukan aksi tegas terhadap perasaanku sendiri. Semua itu hanya bisa ku simpan dalam sebuah diary di dalam lubuk hati ku yang terdalam. Selama beberapa hari setelah kejadian itu, rasanya aku ingin mati saja. Bahkan rasanya menghirup oksigen pun aku tak sanggup. Bagaimana aku bisa menghirup oksigen saat aku berpikir mungkin saja sumber oksigenku akan mencari yang lain untuk ia hidupi? Malam itu aku berpikir mungkin hidupku akan benar-benar berakhir.

Secangkir kopi susu habis sudah ku minum. Tak terasa pula sudah hampir dua puluh menit aku menunggu seseorang di kafe dekat tempat kerja ku. Menunggu di tempat yang menyimpan banyak kenangan tentang aku dan pria yang sedang ku tunggu ini membuat kotak kenangan ku kembali terputar, membawa ku ke jaman di mana aku mengerti apa arti cinta yang sebenarnya, mengerti hal yang tidak bisa ku pahami dulu—bahkan sampai sekarang. 

Ya. Jika bisa memutar waktu, aku rasanya ingin memutar waktu pada saat itu. Bukan untuk bilang padanya bahwa aku menyesal, bukan juga bilang bahwa aku melakukan semua itu karena ada alasan yang tidak bisa pria itu ketahui—ya walau aku berencana untuk memberitahunya suatu saat nanti. Tapi pada saat itu, pada saat waktu mundur dan menunjukkan gambaran kita di masa lalu. Aku akan memeluk mu dan berterima kasih karena telah menyatakan perasaanmu yang sangat berharga. Terima kasih karena tidak menyerah dan tetap memperjuangkan ku, sampai akhirnya aku sadar betapa kau sangat pantas untuk dipertahankan lebih dari apapun. Bahkan lebih dari berbagai macam alasan yang membuat ku sempat goyah. 

Dan, ya—roda berputar. Aku bersyukur karena kau telah berusaha sampai sejauh ini. Bersyukur karena tidak saling menyerah walau aku tahu, lelah pasti menghampiri. Dan terima kasih karena kau mewujudkan ‘kami’ diantara ‘aku dan kau.’ 

“Annyeong?” Suara berat khas pria itu memecahkan lamunan ku dan menutup rapat-rapat kotak kenangan yang baru saja terputar. Ku lihat senyum hangat yang biasa ia beri padaku sebelum akhirnya pria itu duduk di hadapan ku. 

“Sedang memikirkan apa? Maaf aku lama, ada beberapa hal yang harus ku urus saat kembali ke rumah tadi—hah. Hari pertama kamu bekerja dan aku sudah rindu.” Tangannya merayap di atas meja, meraih tanganku untuk menyalurkan rasa rindunya padaku.

Aku tersenyum. Senang dengan tutur kata yang selalu berhasil membuat pipiku memerah dan jantungku berdegup kencang—salah satu kesukaanku setelah senyumnya yang menenangkan hati di saat hari ku berjalan tidak sesuai dengan keinginan, dan senyum itu membuatku bersyukur pada Tuhan karena telah mengizinkan pria itu terlahir di dunia. 

“Dowoon-ah?”

***

Jika ditanya apa aku masih menyesal tentang kejadian beberapa tahun silam, jawabannya adalah tidak. Karena apa? Jujur saja, kejadian masa lalu itu memang tidak bisa ku lupakan, tapi, masa lalu itu tetap masa lalu, bukan? Yang penting, daripada jawaban untuk pertanyaan semacam menyesal atau tidak, bukannya lebih baik menjawab pertanyaan semacam “Apa aku bersyukur atau tidak?”?

Karena jujur saja, aku punya jawaban yang panjang dari pertanyaan itu, dan semuanya akan ku beritahu sekarang juga. Saat pria itu duduk di hadapanku, memangku anak sulung kami, dan menampakkan senyum yang dapat membuatku berterima kasih setiap harinya karena ia telah hadir di dalam hidup ku.

A guy and a girl can be just friends, but at the point or another, they will fall for each other. Maybe temporarily, maybe at the wrong time, maybe too late, or maybe forever. 

-end.

0

Avenoir

Avenoir

Author: Rista Nurmalita

Cast: Kim Jongin, Monggu/?

Bang Minah, Lee Gikwang, Jung Jinwoon (mentioned only)

Genre: Romance

Length: Ficlet

 

 tumblr_mkexe8tsa61s9a7hyo1_500_large

 

***

avenoir – n. the desire that memory could flow backward. We take it for granted that life moves forward. But you move as a rower moves, facing backwards: you can see where you’ve been, but not where you’re going.

***

Continue reading

0

On a Brisk Day

“On a brisk day”

Author : astrianiwii

Cast : Goo Junhoe . Byun Baekhyun

Rating : General

Length : Ficlet

untitled-6_adricia

 

 

Pagi hari bersama gerimis yang menyapa.
Dua kualam dalam terhisap.

“Mati kau.” Senyuman mengembang, dua onggok tubuh terbaring lemah.

“Sialan, badanku benar-benar remuk.” Ekstasi diantaranya, rasa mabuk tak berdasar memapah tak tertahan.

Derap lembut terdengar merdu.
Bulan tersongsong selengan panjang.

***

Rabu pagi, ketika jas lab tergantung lemah di bahunya. Tujuh jam menjadi pesuruh tanpa niatan untuk menyela atau berteriak seperti dahulu kala.

Dahulu kala ketika gerakan refleks tak pernah bisa terhentikan.
Dahulu kala ketika perasaan geram masih tenggelam diantara keduanya.
Dahulu kala ketika sang putih masih tak mempunyai pijakan.
Dahulu kala ketika sang hitam masih terlalu pekat untuk telihat.
Dahulu kala ketika sang abu belum sepenuhnya menemukan pilihan.

Seoul kelabu, awan mengantung diatas sana. Empat ronde bersama keringat yang bercucuran. Matahari mengintip dari kejauhan.

Satu cangkir kopi dan satu cangkir coklat panas. Aroma menguak ke permukaan, jarak terpangkas sedemikian rupa.

“Membuangmu dari pesawat terbang…” kepalanya terkoyak, tertoyor ke kanan hingga mencium kasur. Alih-alih tenaga yang terkuras hilang tangannya bergerak mencengkram sekuat tenaga, berbalik menyerang seperti biasanya.

Stick PS jatuh terendam, gumpalan selimut menjuntai tak beraturan. Dua pasang kaki saling bergelumut, kemelut diantaranya.

***

Dokter muda itu tersenyum, musim gugur dan angin yang berhembus. Satu cup kopi bertengger di tangannya, diatas rooftop daun daun berguguran. Senyuman tengil tercetak jelas dalam parasnya.

Tap. Tap. Tap.

Sebuah langkah mendekat kearahnya ditemani suara Michael Jackson yang terputar di telinganya. Tangan terjulur, bulan yang datang menyapanya.

“Ia pulang, harusnya ku rekam saja saat itu agar kau percaya.” Sang dokter mendelikan matanya, berspekulasi mengenai perkataan sang gadis tanpa berniat untuk beranjak dari tempatnya.

“Tak ingat dan tidak mau ingat, aku terbaring saat itu..” hembusan napas, dan ia terpaksa mengangkat badannya. “Dan terimakasih telah mengganggu tidur siangku yang sangat singkat Hana-ssi.” Sebelum akhirnya senyum kembali tersungging dalam bibirnya.

***

Incheon ramai siang ini, manusia yang berlalu lalang, hembusan waktu yang berjalan berdampingan. Dress putih itu terasa manis dalam pandangan, menempel sangat baik tepat di tubuhnya. Penjepit rambut serta liptint manis menambah rasa spesial dalam dirinya.

Satu buah kertas dan nama yang tercetak jelas. Kaki mungilnya menunggu cemas dalam satu deretan panjang tersebut. Kekacauan yang menyapanya, gerakan erat di tengah pergunjingan dalam hatinya. Detik demi detik yang berlalu dan ketika sang bintang menampakan sinarnya.

Bersama sang matahari yang menatap kearahnya.

Dari jarak berpuluh meter di belakang, seperti biasanya.

Juga bintang lain yang tampak lebih bersinar disisi sang rembulan.

“Baekhyun-ah!!!!” sebuah fase ketika gerhana tak bisa di cegah. “Oh kenalkan, ia kekasihku.”

***

“Cih, mana sudi aku menerimanya.” sebuah bantal menyerang tepat di wajahnya. “Kau jauh-jauh kabur kesana dan hanya menyogoku dengan gantungan kunci, Demi Neptunus.” satu kaleng cola kini menggantikan bantal tersebut. “Ya Byun Baekhyun!”

“Ya Goo Junhoe! Tidak usah berteriak, kau membangunkan anakku!”

Berita mengenai kepulangannya berserta sambutan hangat dari seluruh keluarga. Yejin berdecak pinggang, bersiap untuk melempari June yang tergeletak di atas sofa sementara pria lainnya tengah terpingkal tak tertahan. Baekhyun terdiam, merinding ketika bantal lainnya ikut mencium tepat di kepalanya.

“Kupastikan sepatuku yang akan mencium kening kalian jika kalian membangunkan Gaeul, eoh?” semburan yang sampai kepermukaan, juga sebuah fakta yang kembali membuat keduanya terpingkal semakin jadi. “Ya! Aku benar-benar mengutuk hari dimana ka terpogoh merengek di hadapan June saat itu ck.” remot televisi kini mencium keduanya, hening diantaranya.

***

“Kau sudah tau?” June mengedikan bahunya, bola basket yang menggelinding menjauh. “Aku hampir ternganga di buatnya. Dia benar-benar bukan wanita biasa ckck.”

Tentu saja, keduanya mengetahui hal tersebut, fakta tergores di atas batu. Kecemburuan dari sudut keduanya terpancar dengan jelas.

“Kau datang dengan siapa saat itu? Si anak jajaran kehormatan?” Baekhyun mengedikan bahunya, sejelas penglihatan June saat itu saat di Incheon. “Kau memang tak pernah berubah, berhenti membodohi perasaanmu. Tak baik selalu merelakan hatimu demi orang lain.”

“Kukira kau yang akan menikahi Hana.” jeda diantara keduanya.

“Tentu saja akan menikah.” Sebuah benda berkilat hinggap dalam pandangan Baekhyun. “Aku sudah melamarnya.” sebelum cengiran tengil itu kembali tercetak.

“Mwoya? Dengan  wanita galak itu?”